Showing posts with label Emosi. Show all posts
Showing posts with label Emosi. Show all posts

Saturday, February 25, 2012

Beauty "Fake"

Bismillah..

Topeng. Mau sembunyi kemana lagi ? (from here)

Kali ini kami berjumpa lagi dengan 'dia' si tanpa emosi yang kami ceritakan di puisi sebelumnya..
Ergh, melihatnya saja aku dan pelangi sudah bergidik ngeri. Bukan karena ia terlihat menyeramkan sih, ia bahkan sedang tertawa bersama beberapa kawan saat tak sengaja kami melirik ke arahnya.
Tapi, melihat matanya, aku lebih berharap kali ini ia menangis. Pelangi lebih berharap kali ini ia bukan tertawa, tapi meluapkan semua amarahnya. Kami malah lebih takut melihatnya seperti ini.

Friday, January 27, 2012

Pesan seberkas kisi

Bismillah..
Terpuruk ('_' )
Seberkas kisi pernah datang dan berkata diantara rimbun daun yang berguguran
"Jangan Emosi ! Sikapi emosimu dengan anggun, pelangi.." ia memberi senyum yang menenangkan.

Jatuh cinta adalah emosi,
yang jika tak kau sikapi dengan anggun, akan membakar semua hingga hangus

Patah hati adalah emosi,
yang jika tak kau sikapi dengan anggun, entah luka seperti apa yang tersisa

Thursday, January 26, 2012

Amarah - Supernova

Bismillah..
Ledakan Supernova
Kesejatian hidup ada pada batu kerikil yang tertendang ketika kau melangkah menyusuri jalan. Kesejatian hidup ada pada selembar daun kering yang gugur tertiup angin. -Dee-
Hari ini aku diajak oleh shifu berjalan-jalan. Tidak biasanya selama perjalanan ia mengomel panjang lebar. Mengeluhkan macam-macam. Mulai dari tangan mungilnya yang perlahan mulai keriput. Ah, harusnya yang menemani Shifu jalan-jalan itu Po. mereka pasangan yang seimbang dalam hal seperti ini. 

Thursday, April 28, 2011

runtuh


-------------------------------------------

ini cuma sekadar iseng, meluapkan semua yang ingin diluapkan, meneriakkan semua yang hendak diteriakkan. jadi, aku hanya butuh pemakluman akan semua kata-kata ku ini.

-------------------------------------------

Wajahku tak berpaling dari tembok itu
yah, bertahun-tahun sudah tembok itu kubangun
dengan bahan-bahan pembuatnya ditambah sedikit bumbu penderitaan
bangga aku menatapnya
aku berhasil membangun tembok yang pernah hancur itu
akhirnya, setelah sekian lama
dan perlahan ku taruh hatiku yang amat sangat rapuh di dalamnya

Tapi hanya dengan satu sentilan darimu
hanya dengan itu tembokku kembali runtuh
runtuh
runtuh
runtuh
runtuh

hanya dalam satu kedipan mata
hanya dengan itu tembokku kembali runtuh
runtuh
runtuh
runtuh
runtuh

sisa tenaga ku tak cukup kuat untuk membangun kembali tembok yang telah hancur berkeping itu
ataukah lebih baik kalau aku biarkan saja hatiku yang amat sangat rapuh dikoyak ?


yang tak dapat menahan lagi tangisnya
Aisyah


--------------------------------------------------------------

mau tau sentilan dalam satu kedipan mata itu apa ?
okey, here it is :

"Cit, sorry kalo w gga ngasih langsung ke u. Jadi u nganggap enteng tuh barang! Tadi padahal w mau ngomong ke u.... Eh u a malah pergi!!!!! Umn, yawdh, w ngomong disini aja... Umn, jadi hati yang w kasih ke u itu hadiah dari temen w! tapi kalo menurut w itu cuma penghibur! Coz itu hati dikasih 2 hari sesudah adek w meninggal! Sebener a itu tuh kalung, di kalungnya itu ada 5 hati, biru(yang w kasih ke u), hijau(Ada di kuburan adek w), merah, kuning sama warna netral! kta temen w kalo ada cwe yg w suka kasih yg warna merah, biru, sama kuning.... Kalo belum ada bawa salah 1 jangan 3 warna ntu... Coz bawa sial! Kebetulan w suka warna biru, yawdh sejak dulu yang warna biru selalu ada di kantong w... N coz w suka ke u jadi ya..... w kasih ke u tuh hati. Tapi jujur, w dapet bnyk bgt keberuntungan kalo w genggam tuh hati. Lagian w gga mimpi buruk lagi sejak w pegang tuh hati biru! Jadi pleeeaaaassseeee u jaga baik baik tuh hati.... Coz dia bnyk bgt bantu w pas lagi susah, termasuk pas w deg"an masuk SMANDA.... Tapi inget! Kalo u udah punya tambatan hati laen! Balikin tuh hati ke w! Coz kta temen w, w bakal sial kalo cwe yg w kasih tuh hati suka ke cwo laen!


PS: U cantik bgt hari nie! Sumpah deh! Kerudung u juga cocok! Jadi pengen meluk u!!!!

Written at June, 15 2009


and also this one :
Kalo pendapat gw berarti sepihak dong! Tunangan gw pengen cerpen, novel n artikel yang perfect. Makanya gw ampe nembak 23 cewe buat ngerasain gimana rasanya nembak perempuan, pacaran lebih dari 2 orang, ngerasa gimana sih perasaan orang yang di tolak de el el.

written at March 12


-----------------------------------------------------------------------

Mungkin ada yang ndak ngerti dari isi tulisanku kali ini..
Relax, it's just one of my "jahiliyah" story

yang jelas, semoga Allah senantiasa memberikan secuil pemahaman mengenai kehidupan ini..
semoga Allah masih sudi menengok hambanya yang penuh lumpur dosa ini...


-------------------------------------------------------------

tau kan sekarang ?
oke, aku memang hanya wanita bodoh yang sudah ditipu selama 4 tahun..

Ya Allah, inikah yang ingin Kau tunjukkan padaku ?
Ya Rabb, hambamu malu ya Rabb ! Malu!
perasaan cinta ini Engkau yang buat, tapi hamba sama sekali tidak menyikapinya dengan jalan yang telah Engkau siapkan !
Hamba MALU ya Allah, MALU

--------------------------------------------------------------

Sunday, February 6, 2011

jangan sampai

assalamu'alaikum.. mumpung hari minggu.. akhirnya sempat..
beberapa minggu yg lalu kan di pinjami buku "Jalan Cinta Para Pejuang" sama kak Abdullah Akif (nama asli : Andi Imam Arundhana), jadi, kayaknya ga baik kalo ilmu ny ga ditransfer, ini salah satu kisah inspiratif pada zaman kekhalifahan Umar Ibn Al-Khattab... mudah-mudahan ada 'ibroh yg bisa diambil..

‘Umar ibn Al-Khaththab sedang duduk di bawah sebatang kurma. Surbannya dilepas, menampakkan kepala yang rambutnya mulai teripis dibeberapa bagian. Di atas kerikil dia duduk, dengan cemeti imarat-nya tergeletak disamping tumpuan lengan. Dihadapannya para pemuka sahabat bertukar pikiran dan membahas berbagi persoalan. Ada anak muda yang tampak menonjol disitu. ‘Abdullah ibn ‘Abbas. Ada juga Salman Al-Farisi yang tekun menyimak. Ada juga Abu Dzar Al-Ghifari yang sesekali bicara api-api.
Pembicaraan mereka segera terjeda. Dua orang pemuda berwajah mirip datang dengan mengapit pria belia lain yang mereka cekal lengannya. “Wahai amirul Mukminin, “ ujar salah satu berseru-seru, “Tegakkanlah hukum Allah atas pembunuh ayah kami ini!”
‘Umar bangkit. “Takutlah kalian kepada allah!” hardiknya, “Perkara apakah ini?”
Kedua pemuda itu menegaskan bahwa pria belia yang merka bahwa ini adalah pembunuh ayah mereka. Mereka siap mendatangkan saksi dan bahkan menyatakan bahwa si pelaku ini telah mengaku. ‘Umar bertanya kepada sang tertuduh. “Benarkah yang mereka dakwakan kepadamu ini?”
“Benar, wahai Amirul Mukminin!”
“Engkau tidak menyangkal dan di wajahmu kulihat ada sesal!” ujar ‘Umar menyelidik dengan teliti. “Ceritakanlah kejadiannya!”
“Aku datang dari negeri yang jauh,”kata belia itu. “Begitu sampai dikota ini kutambatkan kudaku di sebuah pohon dekat kebun milik keluarga mereka. Kutinggalkan ia sejenak untuk mengurus suatu hajat tanpa aku tahu ternyata kudaku mulai memakan sebagian tanaman yang ada di kebun mereka.”
“Saat aku kembali,”lanjutnya sembari menghela nafas, “Kulihat seorang lelaki tua yang kemudian aku tahu adalah ayah dari kedua pemuda ini sedang memukul kepala kudaku dengan batu hingga hewan malang itu tewas mengenaskan. Melihat kejadian itu, aku dibakar amarah dan kuhunus pedang. Aku khilaf, aku telah membunuh lelaki tua itu. Aku memohon ampun kepada allah karenanya.”
‘Umar tercenung.
“Wahai Amirul Mukminin,”kata salah satu dari kedua kakak beradik itu, “Tegakkanlah hukum Allah. Kami meminta qishash atas orang ini. Jiwa harus dibayar dengan jiwa.”
‘Umar melihat pada belia tertuduh itu. Usianya masih sangat muda. Pantas saja dia mudah dibakar hawa amarah. Tapi sangat jelas bahwa wajahnya teduh. Akhlaknya santun. Gurat-gurat sesal tampak jelas membayang di air mukanya. ‘Umar iba dan merasa alangkah sia-sianya jika anak muda penuh adab dan berhati lembut ini harus mati begitu pagi. “Bersediakah kalian,” ucap ‘Umar ke arah dua pemuda penuntut qishash, “Menerima pembayaran diyat dariku atas nama pemuda ini dan memaafkannya?”
Kedua pemuda itu saling pandang. “Demi allah, hai Amirul Mukminin,”jawab mereka, “Sungguh kami sangat mencintai ayah kami. Dia telah membesarkan kami dengan penuh cinta. Keberadaanya ditengah kami takkan terbayar dan terganti dengan diyat sebesar apapun. Lagipula kami bukanlah orang miskin yang menghajatkan harta. Hati kami baru akan tenteram jika had ditegakkan!”
‘Umar terhenyak. “Bagaimana menurutmu?” tanyanya pada sang terdakwa.
“Aku ridha hukum allah ditegakkan atasku, wahai Amirul Mukminin,” kata si belia dengan yakin. “Namun ada yang menghalangiku untuk sementara ini. Ada amanah dari kaumku atas beberapa benda maupun perkara yang harus aku sampaikan kembali pada mereka. Demikian juga keluargaku. Aku bekerja untuk menafkahi mereka. Hasil jerih payah di perjalanan terakhirku ini harus aku serahkan pada mereka sembari berpamitan memohon ridha dan keampunan ayah ibuku.”
‘Umar trenyuh. Tak ada jalan lain, hudud harus ditegakkan. Tetapi pemuda itu juga memiliki amanah yang harus ditunaikan. “Jadi bagaimana? Tanya ‘Umar.
“Jika engkau mengizinkaku, wahai Amirul Mukminin, aku minta waktu tiga hari untuk kembali kedaerah asalku guna menunaikan segala amanah itu. Demi Allah, aku pasti kembali di hari ketiga untuk menetapi hukumanku. Saat itu tegakkanlah had untukku tanpa ragu, wahai putra Al-Khaththab.”
“Adakah orang yang bisa menjaminmu?”
“Aku tak memiliki seorangpun yang kukenal di kota inihingga dia bisa kuminta menjadi penjaminku kecuali Allah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
“Tidak! Demi Allah, tetap harus ada seseorang yang menjaminmu atau aku tak bisa mengizinkanmu pergi.”
“Aku bersumpah dengan nama allah yang amat keras ‘adzabnya. Aku takkan menyalahi janjiku.
“Aku percaya. Tapi tetap harus ada manusia yang menjaminmu!”
“Aku tak punya!”
“Wahai Amirul Mukminin!”terdengar sebuah suara yang berat dan berwibawa menyela. “Jadikan aku sebagai penjamin anak muda ini dan biarkanlah dia menunaikan amanahnya!” Inilah dia, Salman Al-Farisi yang tampil mengajukan diri.
“Engkau hai Salman, bersedia menjamin anak muda ini?”
“Benar. Aku bersedia!”
“Kalian berdua kakak berasik yang mengajukan gugatan,” panggil ‘Umar, “Apakah kalian bersedia menerima penjaminan dari Salman Al-Farisi atas orang yang telah membunuh ayah kalian ini? Adapun Salman semi Allah, aku bersaksi tentang dirinya bahwa dia lelaki ksatria yang jujur dan tak sudi berkhianat.”
Kedua pemuda itu saling pandang. “Kami menerima,” kata mereka nyaris serentak.
* * *
Waktu 3 hari yang disediakan untuk sang terhukum nyaris habis. ‘Umar gelisah tak karuan. Dia mondar-mandir sementara Salman duduk khusyu’ di dekatnya. Salman tampak begitu tenang padahal jiwanya di ujung tanduk. Andai lelaki pembunuh itu tidak datang memenuhi janji, maka dirinyalah selaku penjamin yang akan menggantikan tempat sang terpidana untuk menerima qishash.
Waktu terus merambat. Belia itu masih belum muncul.
Kota Madinah mulai terasa kelabu. Para shahabat berkumpul mendatangi ‘Umar dan Salman. Demi Allah, mereka keberatan jika Salman harus dibunuh sebagai badal. Mereka sungguh tak ingin kehilangan sahabat yang pengorbanannya untuk Islam begitu besar itu. Salman seorang sahabat yang tulus dan rendah hati. Dia dihormati. Dia dicintai.
Satu demi satu, dimulai dari Abud Darda’, beberapa shahabat mengajukan diri sebagai pengganti Salman jika hukuman benar-benar dijatuhkan padanya. Tetapi Salman menolak. ‘Umar menggeleng. Matahari semakin lingsir ke barat. Kekhawatiran ‘Umar makin memuncak. Para shahabat makin kalut dan sedih.
Hanya beberapa saat menjelang habisnya batas waktu, tampak seseorang datang dengan berlari tertatih dan terseok. Dia pemuda itu, sang terpidana. “Maafkan aku,”ujarnya dengan senyum tulus sembari menyeka keringat yang membasahi sekujur wajah, “Urusan dengan kaumku itu ternyata berbelit dan rumit sementara untaku tak sempat beristirahat. Ia kelelahan nyaris sekarat dan terpaksa kutinggalkan ditengah jalan. Aku harus berlari-lari untuk sampai kemari sehingga nyaris terlambat.”
Semua yang melihat wajah dan penampilan pemuda ini merasakan sergapan iba. Semua yang mendengar penuturannya merasakan keharuan mendesak-desak. Semua tiba-tiba merasa tak rela jika sang pemuda harus berakhir hidupnya dihari itu.
“Pemuda yang jujur,” ujar ‘Umar dengan mata berkaca-kaca, “Mengapa kau datang kembali padahal bagimu ada kesempatan untuk lari dan tak harus mati menanggung qishash?”
“Sungguh jangan sampai orang mengatakan,” kata pemuda itu sambil tersenyum ikhlas, “Tak ada lagi orang yang tepat janji. Dan jangan sampai ada yang mengatakan, tak ada lagi kejujuran hati di kalangan kaum Muslimin.”
“Dan kau Salman,”kata ‘Umar bergetar, “Untuk apa kau susah-susah menjadikan dirimu penanggung kesalahan dari orang yang tak kau kenal sama sekali? Bagaimana kau bisa mempercayainya?”
“Sungguh jangan sampai orang bicaraa,” ujar Salman dengan wajah teguh, “Bahwa tak ada lagi orang yang mau saling membagi beban dengan saudaranya. Atau jangan sampai ada yang merasa, tak ada lagi saling percaya di antara orang-orang Muslim.”
“Allahu Akbar! Kata ‘Umar, “Segala puji bagi Allah. Kalian telah membesarkan hati ummat ini dengan kemuliaan sikap dan agungnya iman kalian. Tetapi bagaimanapun wahai pemuda, had untukmu harus kami tegakkan!”
Pemuda itu mengangguk pasrah.
“Kami memutuskan...”kata kakak beradik penggugat tiba-tiba menyeruak, “Untuk memaafkannya.” Mereka tersedu sedan. “Kami melihatnya sebagai seorang yang berbudi dan tepat janji. Demi Allah, pasti benar-benar sebuah kekhilafan yang tak disengaja jika dia sampai membunuh ayah kami. Dia telah menyesal dan beristighfar kepada Allah atas dosanya. Kami memaafkannya. Janganlah menghukumnya, wahai Amirul Mukminin.”
“Alhamdulillah! Alhamdulillah!” ujar ‘Umar. Pemuda terhukum itu sujud syukur. Salman tak ketinggalan menyungkurkan wajahnya ke arah kiblat mengagungkan asma Allah, yamg kemudian diikuti oleh semua hadirin.
“Mengapa kalian tiba-tiba berubah pikiran?” tanya ‘Umar pada kedua ahli wariskorban.
“Agar jangan sampai ada yang mengatakan,”jawab mereka masih terharu, “Bahwa di kalangan kaum Muslimin tak ada lagi kemaafan, pengampunan, iba hati dan kasih sayang.”...
Subhanallah.... [-_-]


redaksi tulisan Salim A. Fillah

Friday, January 14, 2011

Suara Hati Seorang Saudari


Suara hati seorang saudari..
dengarlah..



adakah tempat dimana aku dapat menata hidupku sendiri ?
sejak nafas ini berhembus
semua langkah dan gerak bukan diriku yang lakukan
adakah ruang dimana ku rajut mimpi-mimpiku sendiri
bahkan dalam lelap pun tak sudi mereka melepasku
aku bukan boneka yang tangan dan kakiku terikat benang
yang mengendali lakuku
tapi kenapa aku tetap terkukung ?
ingin aku teriakkan segala sesak
KELUARKAN AKU !!!

Aku lelah. . .
sangat lelah. . .
bahkan air mata telah mengering
dan ku tak tau lagi cara menangis
adakah air mataku tetap bening ?
ataukah memerah darah
hidupku bukan milikku
buatlah skenario sesuka kalian
lalu tonton aku sebagai pelakon
Tenanglah, kubiarkan hatiku hancur
asalkan kalian puas melihat pertunjukanku
ku akan menjadimartis terbaik kalian
yang akan tetap tersenyum kala jiwa menangis
tanpa perlawanan..
agar kalian PUAS !

Rabbku, Aku lelah . . .
Ku meraba dalam gelapku
mencari ukiran inayah Mu
mataku nanar menahan desakan air mata
tenggorokanku perih menyimpan gumpalan sesak

Rabb, hatiku terlalu kecil menampung semua pedihku
Aku lelah menjadi kuat
Aku lelah menjadi hebat
Aku lelah menjadi sempurna
Biarkan ku tunjukkan sedikit lemahku
agar ku punya ruang untuk bernafas
Allahku. . . terangilah
Aku lemah tanpa Mu. . .

Rabbi. . .
Engkau yang paling tau setiap petaka
petaka yang tersembunyi dibalik pintaku
maka ku tak pernah kecewa dengan semua ketetapan Mu

Duhai Rabbi. . .
ku hanya ingin menjadi sebaik-baiknya wanita dimatanya
penunjuk jalan kearah Mu baginya
penegus tiap keputusannya kelak
tempat bersandar ketika dia lelah
dan menghapus peluhnya dengan tanganku
ku tak mencintai seorang yang sempurna
tapi karena dia kucinta
maka dia tampak sempurna
setidaknya dimataku

Friday, December 31, 2010

no title

tangis ku berderai
entah untuk apa
isak ku tertahan
entah untuk siapa
bulir air mata ku jatuh
entah karena apa
hati ku bak ter iris
entah bagaimana bisa
jangan tanya apa-apa
jangan tanya mengapa
jangan tanya siapa
jangan tanya bagaimana
karena aku pun tak tau apa-apa

Wednesday, December 22, 2010

Episode Angin

kutulis ini.. entah untuk apa..
aku sama sekali tidak tau apa maksudmu dengan itu semua
aku tidak bermaksud menyombongkan diri..
tapi aku bersungguh-sungguh..
aku bukanlah orang yang menginginkan kemudharatan bagi orang lain..
tapi apabila perbuatanku ternyata membawa mudharat bagimu..
aku minta maaf..
aku hanya berbuat sebisaku..
maafkan aku yang membuat hidupmu berantakan
maafkan aku seenaknya mengobrak-abrik rasamu
sekali lagi, itu bukan maksudku..