Showing posts with label motivasi. Show all posts
Showing posts with label motivasi. Show all posts

Wednesday, July 2, 2014

Resolusi Ramadhan 1435 H

Bismillah,


"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) saat Lailatul Qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu? Lailatul qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. "(Al-Qadr: 1-5)

 "Ai, resolusi Ramadhan ini apa?"

Saturday, May 7, 2011

Si Coklat itu


--------------------------------------

bismillah..
mengulang masa-masa SD ternyata tidak buruk juga, yah, sambil mempersiapkan buat ulangan hari senin, membahas besok, ternyata termenung sejenak sedikit menolong.

--------------------------------------

Cerita ini tentang si coklat manis, Yogi namanya (nama panjangnya saya lupa, maklum, kenangan pas masih SD). kalau berkaca tentang hidup dari dia, rasanya hidupku penuh kemudahan, kebahagiaan dan (harusnya) penuh kesyukuran. nah, kalau berkaca tentang perjuangan dari dia kayaknya perjuangan ku sama sekali tidak ada apa-apanya (jadi malu sendiri). kalau berkaca tentang keikhlasan dari dia, aku bisa dikategorikan sama sekali pamrih ! (walah).

begini ceritanya, aku bersekolah SD di SD kampung yang (lumayan) kumuh. kami sekelas 40 orang. kebetulan aku pindahan di sekolah itu, waktu kelas 1 cawu 2. pertama kali masuk, sepertinya tidak ada yg memberikan padaku tatapan bersahabat. hanya dia, yogi, yang dengan senyum polos nya dan hidungnya yg beringus mempersilahkan padaku kursi disampingnya yang masih kosong, terharu sekali waktu itu (hiks). aku belajar dari Kepolosannya dan keikhlasannya saat itu.

lain kali, saat itu sepertinya aku kelas 3 SD, sekitar jam 9 pagi, tidak seperti biasanya yogi tidak masuk, lalu, ada suara ketukan pintu dari luar kelas.
yogi, dengan tas kumalnya dan baju putihnya yg lusuh terlihat penuh lumpur, otomatis satu kelas menertawakannya. ia hanya tertunduk malu sambil melangkahkan kakinya ke bangku kami setelah dipersilahkan masuk oleh guruku. pas aku tanya kenapa ia terlambat,

ia menjawab :
" tadi sepeda yang dipake buat nganterin koran tiap hari bocor dijalan, jadi aku nganterin koran sambil menuntun sepeda, pas di pertigaan bubulak ada motor yg nyerempet jadi aku jatoh deh ke lumpur sama koran-korannya, jadi aku harus ke bapaknya yg ngasih aku koran, minta maaf dulu baru ke sekolah" senyum penyesalan masih terbentuk diwajahnya yang terbakar matahari.

jleb, hatiku tertusuk mendengarnya, ia bahkan tidak menyalahkan sepeda motor yang membuatnya seperti itu, kalau diingat lagi ingin nangis rasanya.

pernah kejadian lain, penasaranku sudah memuncak, aku singkirkan rasa tidak enakku padanya dan bertanya untuk apa ia berjualan koran seperti itu (yg ia ceritakan tiap pagi ia harus bangun jam 3 untuk mengambil koran tsb dari si bapak itu), mana pula orangtuanya, masa orangtuanya membiarkannya berjualan seperti itu ?

jawaban darinya lagi-lagi membuatku merasa kerdil, air mataku menetes saat itu juga.
ia menjawab :" ya buat cari uang lah ais, pan abdi teh butuh daang jeung buat sakola. mun ibu jeung bapa teh, abdi tacan pernah ketemu, anu ngasuh abdi mah om, om ge geus heunteu kerja deui" katanya dengan ringan seolah tanpa beban.

dan aku ingat, semester ke 2 si kelas 4 SD, setelah satu minggu ia tidak masuk sekolah, datang seorang bapak-bapak yang sudah agak tua mengabarkan bahwa yogi meninggal terkena hepatitis B, aku menangis sejadi-jadinya.

Ia kembali. kembali terngiang pesannya padaku waktu aku kesal karna tidak dapat juara 1 waktu kenaikan kelas 3 ke kelas 4, " yah, gapapa lah. Allah sudah tau kalo kamu teh sudah berusaha keras belajarna, hasilnya mah terserah Allah, tong marah" kos kitu atuh" katanya menyemangatiku.


-----------------------------------------

Lagi-lagi..
aku selalu silau dengan pemaknaan nya terhadap hidup di usianya yang semuda itu.
aku selalu takjub akan keikhlasannya menjalani hidupnya yang sama sekali tidak mudah
aku selalu kagum pada kegigihannya berjuang demi menuntut ilmu
aku selalu menangis tiap melihat lecet-lecet dibadannya
aku selalu sedih melihatnya sedikit terkucilkan di kelas

selalu gi.. aku harap kamu dapat SurgaNya..

-----------------------------------------

(cerita ini dimodifikasi dan nama tokohnya disamarkan)
mudah-mudahan bisa diambil hikmahnya.. ^^

Monday, February 7, 2011

curhatan seorang akhi


--------------------------------------------------------------------

kalo yang ini cuma dapat-dapat aja.. tapi, rasanya betul juga,
Jadi ukhti, apa yang menghlangimu berjilbab ?


Kamu tau kenapa saya suka wanita itu pakai jilbab? Jawabannya sederhana, karena mata saya susah diajak kompromi. Bisa dibayangkan bagaimana saya harus mengontrol mata saya ini mulai dari keluar pintu rumah sampai kembali masuk rumah lagi. Dan kamu tau? Di kampus tempat saya seharian disana, kemana arah mata memandang selalu saja membuat mata saya terbelalak. Hanya dua arah yang bisa membuat saya tenang, mendongak ke atas langit atau menunduk ke bawah tanah.
Melihat kedepan ada perempuan berlenggok dengan seutas "Tank Top", noleh ke kiri pemandangan "Pinggul terbuka", menghindar kekanan ada sajian "Celana ketat plus You Can See", balik ke belakang dihadang oleh "Dada menantang!" Astaghfirullahal 'Adhim, Astaghfirullohal 'Adhim... kemana …, ke mana lagi mata ini harus memandang …?

Kalau saya berbicara nafsu, ow jelas sekali saya suka. Kurang merangsang itu mah! Tapi sayang, saya tak ingin hidup ini dibaluti oleh nafsu. Saya juga butuh hidup dengan pemandangan yang membuat saya tenang. Saya ingin melihat wanita bukan sebagai objek pemuas mata. Tapi mereka adalah sosok yang anggun mempesona, kalau dipandang bikin sejuk di mata. Bukan paras yang membikin mata panas, membuat iman lepas ditarik oleh pikiran "forno" dan hatipun menjadi keras.
Andai wanita itu mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh laki-laki ketika melihat mereka berpakaian seksi, saya yakin mereka tak mau tampil seperti itu lagi. Kecuali bagi mereka yang memang berniat untuk menarik lelaki agar memakai aset berharga yang mereka punya.
Istilah seksi kalau boleh saya definisikan berdasar kata dasarnya adalah penuh daya tarik seks. Kalau ada wanita yang dibilang seksi oleh para lelaki, janganlah berbangga hati dulu. Sebagai seorang manusia yang punya fitrah dihormati dan dihargai semestinya anda malu, karena penampilan seksi itu sudah membuat mata lelaki menelanjangi anda, membayangkan anda adalah objek syahwat dalam alam pikirannya. Berharap anda melakukan lebih seksi, lebih... dan lebih lagi. Dan anda tau apa kesimpulan yang ada dalam benak sang lelaki ? Yaitunya: anda bisa diajak untuk begini dan begitu alias gampangan !
Mau tidak mau, sengaja ataupun tidak, anda sudah membuat diri anda tidak dihargai dan dihormati oleh penampilan anda sendiri yang anda sajikan pada lelaki. Jika sesuatu yang buruk terjadi pada diri anda, baik dengan kata-kata yang nyeleneh, pelecehan seksual atau mungkin sampai pada perkosaan. Siapa yang semestinya disalahkan? Saya yakin anda menjawabnya lelaki bukan? Oh betapa tersiksanya menjadi seorang lelaki dijaman sekarang.
Kalau boleh saya ibaratkan, tak ada pembeli kalau tidak ada yang jual. Simpel saja, orang pasti akan beli kalau ada yang nawarin. Apalagi barang bagus itu gratis, wah pasti semua orang akan berebut untuk menerima. Nah apa bedanya dengan anda menawarkan penampilan seksi anda pada khalaik ramai, saya yakin siapa yang melihat ingin mencicipinya.
Begitulah seharian tadi saya harus menahan penyiksaan pada mata ini. Bukan pada hari ini saja, rata-rata setiap harinya. Saya ingin protes, tapi mau protes ke mana? Apakah saya harus menikmatinya? tapi saya sungguh takut dengan Dzat yang memberi mata ini. Bagaimana nanti saya mempertanggungjawabkan nanti? Sungguh saya miris dengan iman saya.
Allah Taala telah berfirman: "Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya", yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita beriman "Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya." (QS. An-Nuur : 30-31 ).
Jadi tak salah bukan kalau saya sering berdiam di ruangan kecil ini, duduk di depan komputer menyerap sekian juta elektron yang terpancar dari monitor, saya hanya ingin menahan pandangan mata ini. Biarlah mata saya ini rusak oleh radiasi monitor, daripada saya tak bisa pertanggung jawabkan nantinya. Jadi tak salah juga bukan ? kalau saya paling malas diajak ke mall, kafe, dan semacam tempat yang selalu menyajikan keseksian.
Saya yakin, banyak laki-laki yang punya dilema seperti saya ini. Mungkin ada yang menikmati, tetapi sebagian besar ada yang takut dan bingung harus berbuat apa. Bagi anda para wanita apakah akan selalu bahkan semakin menyiksa kami sampai kami tak mampu lagi memikirkan mana yang baik dan mana yang buruk. Kemudian terpaksa mengambil kesimpulan menikmati pemadangan yang anda tayangkan ? So, berjilbablah ... karena itu sungguh nyaman, tentram, anggun, cantik, mempersona dan tentunya sejuk di hati dan menyejukkan mata.

mang udin dan mang saleh

hei.. sambil cari tugas sekalian buka blog, kebetulan ada kisah lagi..
pelakunya itu :
MANG UDIN, tukang sol sepatu sama MANG SALEH, tukang sol sepatu juga

Mang Udin, begitulah dia dipanggil, seorang penjual jasa perbaikan sepatu yang sering disebut tukang sol. Pagi buta sudah melangkahkan kakinya meninggalkan anak dan istrinya yang berharap, nanti sore hari mang Udin membawa uang untuk membeli nasi dan sedikit lauk pauk. Mang Udin terus menyusuri jalan sambil berteriak menawarkan jasanya. Sampai tengah hari, baru satu orang yang menggunakan jasanya. Itu pun hanya perbaikan kecil.

Perut mulai keroncongan. Hanya air teh bekal dari rumah yang mengganjal perutnya. Mau beli makan, uangnya tidak cukup. Hanya berharap dapat order besar sehingga bisa membawa uang ke rumah. Perutnya sendiri tidak dia hiraukan.

Di tengah keputusasaan, dia berjumpa dengan seorang tukan sol lainnya. Wajahnya cukup berseri. “Pasti, si Abang ini sudah dapat uang banyak nich.” pikir mang Udin. Mereka berpapasan dan saling menyapa. Akhirnya berhenti untuk bercakap-cakap.

“Bagaimana dengan hasil hari ini bang? Sepertinya laris nich?” kata mang Udin memulai percakapan.

“Alhamdulillah. Ada beberapa orang memperbaiki sepatu.” kata tukang sol yang kemudian diketahui namanya Bang Soleh.

“Saya baru satu bang, itu pun cuma benerin jahitan.” kata mang Udin memelas.

“Alhamdulillah, itu harus disyukuri.”

“Mau disyukuri gimana, nggak cukup buat beli beras juga.” kata mang Udin sedikit kesal.

“Justru dengan bersyukur, nikmat kita akan ditambah.” kata bang Soleh sambil tetap tersenyum.

“Emang begitu bang?” tanya mang Udin, yang sebenarnya dia sudah tahu harus banyak bersyukur.

“Insya Allah. Mari kita ke Masjid dulu, sebentar lagi adzan dzuhur.” kata bang Soleh sambil mengangkat pikulannya.

Mang udin sedikit kikuk, karena dia tidak pernah “mampir” ke tempat shalat.

“Ayolah, kita mohon kepada Allah supaya kita diberi rezeki yang barakah.”

Akhirnya, mang Udin mengikuti bang Soleh menuju sebuah masjid terdekat. Bang Soleh begitu hapal tata letak masjid, sepertinya sering ke masjid tersebut.

Setelah shalat, bang Soleh mengajak mang Udin ke warung nasi untuk makan siang. Tentu saja mang Udin bingung, sebab dia tidak punya uang. Bang Soleh mengerti,

“Ayolah, kita makan dulu. Saya yang traktir.”

Akhirnya mang Udin ikut makan di warung Tegal terdekat. Setelah makan, mang Udin berkata,

“Saya tidak enak nich. Nanti uang untuk dapur abang berkurang dipakai traktir saya.”

“Tenang saja, Allah akan menggantinya. Bahkan lebih besar dan barakah.” kata bang Soleh tetap tersenyum.

“Abang yakin?”

“Insya Allah.” jawab bang soleh meyakinkan.

“Kalau begitu, saya mau shalat lagi, bersyukur, dan mau memberi kepada orang lain.” kata mang Udin penuh harap.

“Insya Allah. Allah akan menolong kita.” Kata bang Soleh sambil bersalaman dan mengucapkan salam untuk berpisah.

Keesokan harinya, mereka bertemu di tempat yang sama. Bang Soleh mendahului menyapa.

“Apa kabar mang Udin?”

“Alhamdulillah, baik. Oh ya, saya sudah mengikuti saran Abang, tapi mengapa koq penghasilan saya malah turun? Hari ini, satu pun pekerjaan belum saya dapat.” kata mang Udin setengah menyalahkan.

Bang Soleh hanya tersenyum. Kemudian berkata,

“Masih ada hal yang perlu mang Udin lakukan untuk mendapat rezeki barakah.”

“Oh ya, apa itu?” tanya mang Udin penasaran.

“Tawakal, ikhlas, dan sabar.” kata bang Soleh sambil kemudian mengajak ke Masjid dan mentraktir makan siang lagi.

Keesokan harinya, mereka bertemu lagi, tetapi di tempat yang berbeda. Mang Udin yang berhari-hari ini sepi order berkata setengah menyalahkan lagi,

“Wah, saya makin parah. Kemarin nggak dapat order, sekarang juga belum. Apa saran abang tidak cocok untuk saya?”

“Bukan tidak, cocok. Mungkin keyakinan mang Udin belum kuat atas pertolongan Allah. Coba renungkan, sejauh mana mang Udin yakin bahwa Allah akan menolong kita?” jelas bang Soleh sambil tetap tersenyum.

Mang Udin cukup tersentak mendengar penjelasan tersebut. Dia mengakui bahwa hatinya sedikit ragu. Dia “hanya” coba-coba menjalankan apa yang dikatakan oleh bang Soleh.

“Bagaimana supaya yakin bang?” kata mang Udin sedikit pelan hampir terdengar.

Rupanya, bang Soleh sudah menebak, kemana arah pembicaraan.

“Saya mau bertanya, apakah kita janjian untuk bertemu hari ini, disini?” tanya bang Soleh.

“Tidak.”

“Tapi kenyataanya kita bertemu, bahkan 3 hari berturut. Mang Udin dapat rezeki bisa makan bersama saya. Jika bukan Allah yang mengatur, siapa lagi?” lanjut bang Soleh. Mang Udin terlihat berpikir dalam. Bang Soleh melanjutkan, “Mungkin, sudah banyak petunjuk dari Allah, hanya saja kita jarang atau kurang memperhatikan petunjuk tersebut. Kita tidak menyangka Allah akan menolong kita, karena kita sebenarnya tidak berharap. Kita tidak berharap, karena kita tidak yakin.”

Mang Udin manggut-manggut. Sepertinya mulai paham. Kemudian mulai tersenyum.

“OK dech, saya paham. Selama ini saya akui saya memang ragu. Sekarang saya yakin. Allah sebenarnya sudah membimbing saya, saya sendiri yang tidak melihat dan tidak mensyukurinya. Terima kasih abang.” kata mang Udin, matanya terlihat berkaca-kaca.

“Berterima kasihlah kepada Allah. Sebentar lagi dzuhur, kita ke Masjid yuk. Kita mohon ampun dan bersyukur kepada Allah.”

Mereka pun mengangkat pikulan dan mulai berjalan menuju masjid terdekat sambil diiringi rasa optimist bahwa hidup akan lebih baik.

pilih yang mana ?

Bismillaah.. sekarang ada kisah dari seorang anak beranak.. mudah-mudahan ada 'ibrohnya yg bisa sedikit dipetik.. :)

Kisah ini aku ambil dari email salah seorang temanku di milis, semoga kisah ini bisa menjadi inspirasi bagi kita semua dalam menjalani kehidupan.

Seorang anak mengeluh pada ayahnya tentang hidupnya yang sulit. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa dan ingin menyerah saja. Ia lelah berjuang. Setiap saat satu persoalan terpecahkan, persoalan yang lain muncul. Ayahnya, seorang juru masak, tersenyum dan membawa anak perempuannya ke dapur. Ia lalu mengambil tiga buah panci, mengisinya masing-masing dengan air dan meletakkannya pada kompor yang menyala. Beberapa saat kemudian air dalam panci-panci itu mendidih. Pada panci pertama, ia memasukkan wortel. Lalu, pada panci kedua ia memasukkan telur. Dan, pada panci ketiga ia memasukkan beberapa biji kopi tumbuk.Ia membiarkan masing-masing mendidih.

Selama itu ia terdiam seribu basa. Sang anak menggereget gigi, tak sabar menunggu dan heran dengan apa yang dilakukan oleh ayahnya. Dua puluh menit kemudian, sang ayah mematikan api. Lalu menyiduk wortel dari dalam panci dan meletakkanya pada sebuah piring. Kemudian ia mengambil telur dan meletakkanya pada piring yang sama. Terakhir ia menyaring kopi yang diletakkan pada piring itu juga.

Ia lalu menoleh pada anaknya dan bertanya, "Apa yang kau lihat, nak?" "Wortel, telur, dan kopi, " jawab sang anak. Ia membimbing anaknya mendekat dan memintanya untuk memegang wortel. Anak itu melakukan apa yang diminta dan mengatakan bahwa wortel itu terasa lunak. Kemudian sang ayah meminta anaknya memecah telur. Setelah telur itu dipecah dan dikupas, sang anak mengatakan bahwa telur rebus itu kini terasa keras. Sang anak tersenyum saat mencicipi aroma kopi yang sedap itu. "Apa maksud semua ini, ayah?" tanya sang anak.
Sang ayah menjelaskan bahwa setiap benda tadi telah mengalami hal yang sama, yaitu direbus dalam air mendidih, tetapi selepas perebusan itu mereka berubah menjadi sesuatu yang berbeda-beda. Wortel yang semula kuat dan keras, setelah direbus dalam air mendidih, berubah menjadi lunak dan lemah.
Sedangkan telur, sebaliknya, yang semula mudah pecah, kini setelah direbus menjadi keras dan kokoh. Sedangkan biji kopi tumbuk berubah menjadi sangat unik. Biji kopi, setelah direbus, malah mengubah air yang merebusnya
itu. "Maka, yang manakah dirimu?" tanya sang ayah pada anaknya. "Di saat kesulitan menghadang langkahmu, perubahan apa yang terjadi pada dirimu?
Apakah kau menjadi sebatang wortel, sebutir telur atau biji kopi?"

Friday, January 14, 2011

Suara Hati Seorang Saudari


Suara hati seorang saudari..
dengarlah..



adakah tempat dimana aku dapat menata hidupku sendiri ?
sejak nafas ini berhembus
semua langkah dan gerak bukan diriku yang lakukan
adakah ruang dimana ku rajut mimpi-mimpiku sendiri
bahkan dalam lelap pun tak sudi mereka melepasku
aku bukan boneka yang tangan dan kakiku terikat benang
yang mengendali lakuku
tapi kenapa aku tetap terkukung ?
ingin aku teriakkan segala sesak
KELUARKAN AKU !!!

Aku lelah. . .
sangat lelah. . .
bahkan air mata telah mengering
dan ku tak tau lagi cara menangis
adakah air mataku tetap bening ?
ataukah memerah darah
hidupku bukan milikku
buatlah skenario sesuka kalian
lalu tonton aku sebagai pelakon
Tenanglah, kubiarkan hatiku hancur
asalkan kalian puas melihat pertunjukanku
ku akan menjadimartis terbaik kalian
yang akan tetap tersenyum kala jiwa menangis
tanpa perlawanan..
agar kalian PUAS !

Rabbku, Aku lelah . . .
Ku meraba dalam gelapku
mencari ukiran inayah Mu
mataku nanar menahan desakan air mata
tenggorokanku perih menyimpan gumpalan sesak

Rabb, hatiku terlalu kecil menampung semua pedihku
Aku lelah menjadi kuat
Aku lelah menjadi hebat
Aku lelah menjadi sempurna
Biarkan ku tunjukkan sedikit lemahku
agar ku punya ruang untuk bernafas
Allahku. . . terangilah
Aku lemah tanpa Mu. . .

Rabbi. . .
Engkau yang paling tau setiap petaka
petaka yang tersembunyi dibalik pintaku
maka ku tak pernah kecewa dengan semua ketetapan Mu

Duhai Rabbi. . .
ku hanya ingin menjadi sebaik-baiknya wanita dimatanya
penunjuk jalan kearah Mu baginya
penegus tiap keputusannya kelak
tempat bersandar ketika dia lelah
dan menghapus peluhnya dengan tanganku
ku tak mencintai seorang yang sempurna
tapi karena dia kucinta
maka dia tampak sempurna
setidaknya dimataku

Wednesday, December 15, 2010

ternyata aku ini..

selangkah demi selangkah
kutapaki jalan setapak ini
kerikil terasa amat sangat menusuk sang telapak kaki
debu panas membakar tubuh hingga kurasa aku tak mampu lagi berdiri
tangisanku berderai mengiringi langkahku
isakanku terdengar ke seluruh pelosok
rintihanku memecah keheningan
aku bahkan tak punya naungan
tak punya persinggahan
tak punya peraduan
kulihat disekelilingku
aku bagaikan nila setitik dalam pancaran bening susu
hitam , kelam
tak diperhatikan
memang terdengar terlalu naas
tapi inilah yang kurasakan sekarang

namun.. pecutan itu menyentakku
lecutan itu membangunkanku
"bukan hanya kamu yang menderita !"
"lihat aku ! aku menderita karenamu !"
"dasar bodoh ! kau tak melihat aku menangis untukmu !"
"hei.. penderitaanmmu tak sebanding dengan yang kudapat !"
"huh, lemah ! baru begitu saja sudah menangis !"

sentakan-sentakan itu menyadarkanku
ternyata aku ini beruntung
ternyata aku ini bahagia
ternyata banyak yang memperhatikanku
ternyata banyak yang menangis karenaku
ternyata aku hanya seorang yang tak pernah bersyukur
ternyata aku tak bisa mengenal duniaku sendiri
ternyata
ternyata
dan ternyata yang lainnya