Sunday, May 29, 2011

Me and My Journey



Bismillahirrahmanirrahiiim..

ayo kita berceritaa....

Alkisah di sebuah negara antah berantah, hidup seorang putri kecil. putri kecil ini sangat manja, cengeng dan egois. Melihat kelakuan putri nya itu, ayahanda dan ibunda geleng-geleng kepala tak habis pikir, akan jadi apa putri mereka jika mereka tidak ada ?

Kebetulan putri mempunyai sahabat, anggap saja namanya nana, berbeda dengan putri, walaupun masih seumurannya, nana jauh lebih dewasa dan bertanggung jawab. mungkin karena pengalaman hidupnya saat menjadi yatim piatu sebelum keluarga putri mengangkatnya sebagai anak.

Akhirnyaa, ayahanda dan ibunda membuat keputusan yang amat sangat sulit. mereka menyuruh putri pergi ke negeri seberang hanya berbekal sebuah kotak bekal, tapi nana bersikeras untuk ikut dengan putri menemani perjalannya.

perjalanan putri tidak pernah berjalan mulus, tentu saja. masalah demi masalah dataaaang terus tak kenal lelah menerpa perjalanan putri.. putri capek, ingin menangis, ingin teriak,ingin segera pulang. wah, urusan ini benar-benar rumit bagi putri. tapi nana benar-benar menepati janjinya untuk terus menjaga putri.

huff, benar-benar perjalanan yang panjang. kalau aku menuliskannya mungkin tak akan ada habis-habisnya. Tapi hasil dari perjalanan selama 4 tahun itu bukanlah hal yang sia-sia..

putri belajar bahwa hidup itu tidak semudah yang ia bayangkan selama ini..
putri belajar tentang rasa malu, malu kepada nana yang lebih dewasa darinya..
putri belajar tentang bagaimana ia harus memanfaatkan waktunya sebaik mungkin..
putri belajar tentang kehilangan..
putri belajar bagaimana ia harus menghadapi masalah..
putri belajar untuk tidak cengeng sepanjang waktu..
putri belajar tentang rasa sakit, bukan hanya sakit fisik, tapi juga batin..
putri belajar tentang bagaimana harus mengambil keputusan..
putri belajar bahwa ia tidak boleh percaya sembarangan orang..
putri belajar makna keikhlasan..
putri belajar makna kesabaran..
putri belajar untuk lebih peka terhadap orang lain..
dan yang terakhir, putri belajar tentang makna cinta yang sesungguhnya..

bisa membayangkan bukan ? dari segitu banyak hal yang putri dapat tentu perjalanannya pun bukan perjalanan yang mudah..

huh, akhirnya putri capek menuliskan semua yang ia dapat dari perjalanan hidupnya itu di blog ini. oh iya, soal perjalanan itu, itu maksudnya yaa perjalanan hidup putri. bukan perjalanan layaknya musafir lho ya.. hehe

Wednesday, May 11, 2011

Belajar dari Nana



bismillahirrahmanirrahiim...

apa makna ditinggalkan ?
kalau aku yang kau tanya seperti itu, aku tak bisa menjawabnya
tapi nana pasti menjawabnya, ia telah ditinggalkan ayahnya di usianya yang baru 9 tahun

apa makna kehilangan ?
kalau aku yang kau tanya seperti itu, aku tak bisa menjawabnya
tapi nana pasti menjawabnya, ia bahkan kehilangan pita suaranya sejak umur 15 tahun

Saturday, May 7, 2011

Si Coklat itu


--------------------------------------

bismillah..
mengulang masa-masa SD ternyata tidak buruk juga, yah, sambil mempersiapkan buat ulangan hari senin, membahas besok, ternyata termenung sejenak sedikit menolong.

--------------------------------------

Cerita ini tentang si coklat manis, Yogi namanya (nama panjangnya saya lupa, maklum, kenangan pas masih SD). kalau berkaca tentang hidup dari dia, rasanya hidupku penuh kemudahan, kebahagiaan dan (harusnya) penuh kesyukuran. nah, kalau berkaca tentang perjuangan dari dia kayaknya perjuangan ku sama sekali tidak ada apa-apanya (jadi malu sendiri). kalau berkaca tentang keikhlasan dari dia, aku bisa dikategorikan sama sekali pamrih ! (walah).

begini ceritanya, aku bersekolah SD di SD kampung yang (lumayan) kumuh. kami sekelas 40 orang. kebetulan aku pindahan di sekolah itu, waktu kelas 1 cawu 2. pertama kali masuk, sepertinya tidak ada yg memberikan padaku tatapan bersahabat. hanya dia, yogi, yang dengan senyum polos nya dan hidungnya yg beringus mempersilahkan padaku kursi disampingnya yang masih kosong, terharu sekali waktu itu (hiks). aku belajar dari Kepolosannya dan keikhlasannya saat itu.

lain kali, saat itu sepertinya aku kelas 3 SD, sekitar jam 9 pagi, tidak seperti biasanya yogi tidak masuk, lalu, ada suara ketukan pintu dari luar kelas.
yogi, dengan tas kumalnya dan baju putihnya yg lusuh terlihat penuh lumpur, otomatis satu kelas menertawakannya. ia hanya tertunduk malu sambil melangkahkan kakinya ke bangku kami setelah dipersilahkan masuk oleh guruku. pas aku tanya kenapa ia terlambat,

ia menjawab :
" tadi sepeda yang dipake buat nganterin koran tiap hari bocor dijalan, jadi aku nganterin koran sambil menuntun sepeda, pas di pertigaan bubulak ada motor yg nyerempet jadi aku jatoh deh ke lumpur sama koran-korannya, jadi aku harus ke bapaknya yg ngasih aku koran, minta maaf dulu baru ke sekolah" senyum penyesalan masih terbentuk diwajahnya yang terbakar matahari.

jleb, hatiku tertusuk mendengarnya, ia bahkan tidak menyalahkan sepeda motor yang membuatnya seperti itu, kalau diingat lagi ingin nangis rasanya.

pernah kejadian lain, penasaranku sudah memuncak, aku singkirkan rasa tidak enakku padanya dan bertanya untuk apa ia berjualan koran seperti itu (yg ia ceritakan tiap pagi ia harus bangun jam 3 untuk mengambil koran tsb dari si bapak itu), mana pula orangtuanya, masa orangtuanya membiarkannya berjualan seperti itu ?

jawaban darinya lagi-lagi membuatku merasa kerdil, air mataku menetes saat itu juga.
ia menjawab :" ya buat cari uang lah ais, pan abdi teh butuh daang jeung buat sakola. mun ibu jeung bapa teh, abdi tacan pernah ketemu, anu ngasuh abdi mah om, om ge geus heunteu kerja deui" katanya dengan ringan seolah tanpa beban.

dan aku ingat, semester ke 2 si kelas 4 SD, setelah satu minggu ia tidak masuk sekolah, datang seorang bapak-bapak yang sudah agak tua mengabarkan bahwa yogi meninggal terkena hepatitis B, aku menangis sejadi-jadinya.

Ia kembali. kembali terngiang pesannya padaku waktu aku kesal karna tidak dapat juara 1 waktu kenaikan kelas 3 ke kelas 4, " yah, gapapa lah. Allah sudah tau kalo kamu teh sudah berusaha keras belajarna, hasilnya mah terserah Allah, tong marah" kos kitu atuh" katanya menyemangatiku.


-----------------------------------------

Lagi-lagi..
aku selalu silau dengan pemaknaan nya terhadap hidup di usianya yang semuda itu.
aku selalu takjub akan keikhlasannya menjalani hidupnya yang sama sekali tidak mudah
aku selalu kagum pada kegigihannya berjuang demi menuntut ilmu
aku selalu menangis tiap melihat lecet-lecet dibadannya
aku selalu sedih melihatnya sedikit terkucilkan di kelas

selalu gi.. aku harap kamu dapat SurgaNya..

-----------------------------------------

(cerita ini dimodifikasi dan nama tokohnya disamarkan)
mudah-mudahan bisa diambil hikmahnya.. ^^

Thursday, April 28, 2011

runtuh


-------------------------------------------

ini cuma sekadar iseng, meluapkan semua yang ingin diluapkan, meneriakkan semua yang hendak diteriakkan. jadi, aku hanya butuh pemakluman akan semua kata-kata ku ini.

-------------------------------------------

Wajahku tak berpaling dari tembok itu
yah, bertahun-tahun sudah tembok itu kubangun
dengan bahan-bahan pembuatnya ditambah sedikit bumbu penderitaan
bangga aku menatapnya
aku berhasil membangun tembok yang pernah hancur itu
akhirnya, setelah sekian lama
dan perlahan ku taruh hatiku yang amat sangat rapuh di dalamnya

Tapi hanya dengan satu sentilan darimu
hanya dengan itu tembokku kembali runtuh
runtuh
runtuh
runtuh
runtuh

hanya dalam satu kedipan mata
hanya dengan itu tembokku kembali runtuh
runtuh
runtuh
runtuh
runtuh

sisa tenaga ku tak cukup kuat untuk membangun kembali tembok yang telah hancur berkeping itu
ataukah lebih baik kalau aku biarkan saja hatiku yang amat sangat rapuh dikoyak ?


yang tak dapat menahan lagi tangisnya
Aisyah


--------------------------------------------------------------

mau tau sentilan dalam satu kedipan mata itu apa ?
okey, here it is :

"Cit, sorry kalo w gga ngasih langsung ke u. Jadi u nganggap enteng tuh barang! Tadi padahal w mau ngomong ke u.... Eh u a malah pergi!!!!! Umn, yawdh, w ngomong disini aja... Umn, jadi hati yang w kasih ke u itu hadiah dari temen w! tapi kalo menurut w itu cuma penghibur! Coz itu hati dikasih 2 hari sesudah adek w meninggal! Sebener a itu tuh kalung, di kalungnya itu ada 5 hati, biru(yang w kasih ke u), hijau(Ada di kuburan adek w), merah, kuning sama warna netral! kta temen w kalo ada cwe yg w suka kasih yg warna merah, biru, sama kuning.... Kalo belum ada bawa salah 1 jangan 3 warna ntu... Coz bawa sial! Kebetulan w suka warna biru, yawdh sejak dulu yang warna biru selalu ada di kantong w... N coz w suka ke u jadi ya..... w kasih ke u tuh hati. Tapi jujur, w dapet bnyk bgt keberuntungan kalo w genggam tuh hati. Lagian w gga mimpi buruk lagi sejak w pegang tuh hati biru! Jadi pleeeaaaassseeee u jaga baik baik tuh hati.... Coz dia bnyk bgt bantu w pas lagi susah, termasuk pas w deg"an masuk SMANDA.... Tapi inget! Kalo u udah punya tambatan hati laen! Balikin tuh hati ke w! Coz kta temen w, w bakal sial kalo cwe yg w kasih tuh hati suka ke cwo laen!


PS: U cantik bgt hari nie! Sumpah deh! Kerudung u juga cocok! Jadi pengen meluk u!!!!

Written at June, 15 2009


and also this one :
Kalo pendapat gw berarti sepihak dong! Tunangan gw pengen cerpen, novel n artikel yang perfect. Makanya gw ampe nembak 23 cewe buat ngerasain gimana rasanya nembak perempuan, pacaran lebih dari 2 orang, ngerasa gimana sih perasaan orang yang di tolak de el el.

written at March 12


-----------------------------------------------------------------------

Mungkin ada yang ndak ngerti dari isi tulisanku kali ini..
Relax, it's just one of my "jahiliyah" story

yang jelas, semoga Allah senantiasa memberikan secuil pemahaman mengenai kehidupan ini..
semoga Allah masih sudi menengok hambanya yang penuh lumpur dosa ini...


-------------------------------------------------------------

tau kan sekarang ?
oke, aku memang hanya wanita bodoh yang sudah ditipu selama 4 tahun..

Ya Allah, inikah yang ingin Kau tunjukkan padaku ?
Ya Rabb, hambamu malu ya Rabb ! Malu!
perasaan cinta ini Engkau yang buat, tapi hamba sama sekali tidak menyikapinya dengan jalan yang telah Engkau siapkan !
Hamba MALU ya Allah, MALU

--------------------------------------------------------------

Thursday, March 17, 2011

Mencintai dalam hening



----------------------------------------------------------

Karya : seorang ukhti di Buminya Allah

Padamu, bagaimana mencintai dengan indah ?
Inginkah ku bisikkan bagaimana mencintai dengan syahdu ?
Maka, dengarlah.....

Gadis, saat ku jatuh cinta,
Tak akan ku berucap..
tak akan ku berkata..
Namun, ku hanya akan diam..
Saat ku mencintai,
takkan pernah ku menyatakan..
tak akan ku menggoreskan..
yang kulakukan hanyalah diam..

Aku tau, cinta adalah fitrah.. sebuah anugrah tak terperi..
karena cinta adalah kehidupan.. karena rasa itu adalah cahaya
Aku tau, hidup tanpa cinta, bagaikan hidup dalam gelap gulita
namun, saat rasa itu menyapa, hadapilah dengan anggun..
Karena rasa itu ibarat belenggu pelangi dengan begitu banyak warna..
cinta terkadang membuatmu bahagia, namun tak jarang pula membuatmu menderita
cinta ada kalanya manis bagaikan gula, namun juga mampu memberi pahit yang amat getir
cinta adalah perangkap rasa..
sekali kau salah berlaku maka kau akan terkukung dalam waktu yang lama dalam lingkar derita

Maka gadis, agar kau dapat keluar dari belenggu itu..
dan mampu melaluinya dengan anggun..
Maka mencintailah dalam hening... dalam diam
tak perlu kau lari, tak perlu kau hindari
namun juga jangan kau sikapi dengan berlebihan..
janagn kau umbar rasamu..
jangan kau tumpahkan segala sukamu..

Cobalah merenung sejenak dan pikirkan dengan tenang..
Kita percaya takdir bukan ?
Kita tau dengan sangat jelas..
Dia, Allah.. telah mengatur segalanya dengan begitu rapinya ?
jadi, apa yang kau risaukan ? Biarkan Allah yang mengaturnya
dan yakinlah, ditangan Nya, semua akan baik-baik saja

Cobalah renungkan..
Dia yang kau cinta.. belum tentu atau mungkin tak akan pernah menjadi milikmu..
Dia yang kau puja..
yang kau ingat saat siang..
yang kau tangisi ketika malam..
akankah dia yang telah Allah takdirkan denganmu ?

Gadis, kita tak tau dan tak akan pernah tau hingga saatnya tiba
maka, kuingatkan padamu.. tidakkah kau malu jika semua rasa telah kau umbar ?
Namun ternyata, kelak bukan kau yang ia pilih untuk mendampingi hidupnya ?
Gadis, karena cinta kita begitu agung untuk diumbar..
begitu mulia untuk ditampakkan..
begitu sakral untuk ditumpahkan..

Dan sadarilah gadis, fitrah kita, wanita, adalah pemalu..
Dan kau Indah karena sifat malumu..
Lalu, masihkah kau menawan jika rasa malu itu telah dinafikan ?
Masihkah kau tampak lestari jika malu itu telah kau singkap ?
Duhai gadis, jadikan malu sebagai selendangmu..
Maka tawan hatimu sendiri dalam sangkar keimanan, dalam jeruji kesetiaan..
Ya, kesetiaan padanya yang telah Allah tuliskan namamu dan namanya di Laudzul mahfudz..
jauh sebelum bumi dan langit dicipta..

Maka, cintailah dalam hening
Agar jika memang bukan dia yang ditakdirkan untukmu,
maka cukuplah Allah dan kau yang tau segala rasamu
Agar kesucianmu tetap terjaga
agar keanggunanmu tetap terbias

Maka kuberitahukan kepadamu.. pegang kendali hatimu
jangan kau lepaskan.. Acuhkan semua godaan yang menghampirimu
Cinta bukan untuk kau hancurkan, bukan untuk kau musnahkan
Namun, cinta hanya butuh kau kendalikan, hanya cukup kau arahkan

gadis, yang kau butuhkan hanya waktu, sabar dan percaya
Maka, pegangalah kendali hatimu, alalu arahkan padaNya
dan cintailah dalam diam
dalam hening
itu jauh lebih indah

jauh lebih suci...





(this poem is dedicated for the girls who fall in love)

Monday, February 7, 2011

curhatan seorang akhi


--------------------------------------------------------------------

kalo yang ini cuma dapat-dapat aja.. tapi, rasanya betul juga,
Jadi ukhti, apa yang menghlangimu berjilbab ?


Kamu tau kenapa saya suka wanita itu pakai jilbab? Jawabannya sederhana, karena mata saya susah diajak kompromi. Bisa dibayangkan bagaimana saya harus mengontrol mata saya ini mulai dari keluar pintu rumah sampai kembali masuk rumah lagi. Dan kamu tau? Di kampus tempat saya seharian disana, kemana arah mata memandang selalu saja membuat mata saya terbelalak. Hanya dua arah yang bisa membuat saya tenang, mendongak ke atas langit atau menunduk ke bawah tanah.
Melihat kedepan ada perempuan berlenggok dengan seutas "Tank Top", noleh ke kiri pemandangan "Pinggul terbuka", menghindar kekanan ada sajian "Celana ketat plus You Can See", balik ke belakang dihadang oleh "Dada menantang!" Astaghfirullahal 'Adhim, Astaghfirullohal 'Adhim... kemana …, ke mana lagi mata ini harus memandang …?

Kalau saya berbicara nafsu, ow jelas sekali saya suka. Kurang merangsang itu mah! Tapi sayang, saya tak ingin hidup ini dibaluti oleh nafsu. Saya juga butuh hidup dengan pemandangan yang membuat saya tenang. Saya ingin melihat wanita bukan sebagai objek pemuas mata. Tapi mereka adalah sosok yang anggun mempesona, kalau dipandang bikin sejuk di mata. Bukan paras yang membikin mata panas, membuat iman lepas ditarik oleh pikiran "forno" dan hatipun menjadi keras.
Andai wanita itu mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh laki-laki ketika melihat mereka berpakaian seksi, saya yakin mereka tak mau tampil seperti itu lagi. Kecuali bagi mereka yang memang berniat untuk menarik lelaki agar memakai aset berharga yang mereka punya.
Istilah seksi kalau boleh saya definisikan berdasar kata dasarnya adalah penuh daya tarik seks. Kalau ada wanita yang dibilang seksi oleh para lelaki, janganlah berbangga hati dulu. Sebagai seorang manusia yang punya fitrah dihormati dan dihargai semestinya anda malu, karena penampilan seksi itu sudah membuat mata lelaki menelanjangi anda, membayangkan anda adalah objek syahwat dalam alam pikirannya. Berharap anda melakukan lebih seksi, lebih... dan lebih lagi. Dan anda tau apa kesimpulan yang ada dalam benak sang lelaki ? Yaitunya: anda bisa diajak untuk begini dan begitu alias gampangan !
Mau tidak mau, sengaja ataupun tidak, anda sudah membuat diri anda tidak dihargai dan dihormati oleh penampilan anda sendiri yang anda sajikan pada lelaki. Jika sesuatu yang buruk terjadi pada diri anda, baik dengan kata-kata yang nyeleneh, pelecehan seksual atau mungkin sampai pada perkosaan. Siapa yang semestinya disalahkan? Saya yakin anda menjawabnya lelaki bukan? Oh betapa tersiksanya menjadi seorang lelaki dijaman sekarang.
Kalau boleh saya ibaratkan, tak ada pembeli kalau tidak ada yang jual. Simpel saja, orang pasti akan beli kalau ada yang nawarin. Apalagi barang bagus itu gratis, wah pasti semua orang akan berebut untuk menerima. Nah apa bedanya dengan anda menawarkan penampilan seksi anda pada khalaik ramai, saya yakin siapa yang melihat ingin mencicipinya.
Begitulah seharian tadi saya harus menahan penyiksaan pada mata ini. Bukan pada hari ini saja, rata-rata setiap harinya. Saya ingin protes, tapi mau protes ke mana? Apakah saya harus menikmatinya? tapi saya sungguh takut dengan Dzat yang memberi mata ini. Bagaimana nanti saya mempertanggungjawabkan nanti? Sungguh saya miris dengan iman saya.
Allah Taala telah berfirman: "Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya", yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita beriman "Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya." (QS. An-Nuur : 30-31 ).
Jadi tak salah bukan kalau saya sering berdiam di ruangan kecil ini, duduk di depan komputer menyerap sekian juta elektron yang terpancar dari monitor, saya hanya ingin menahan pandangan mata ini. Biarlah mata saya ini rusak oleh radiasi monitor, daripada saya tak bisa pertanggung jawabkan nantinya. Jadi tak salah juga bukan ? kalau saya paling malas diajak ke mall, kafe, dan semacam tempat yang selalu menyajikan keseksian.
Saya yakin, banyak laki-laki yang punya dilema seperti saya ini. Mungkin ada yang menikmati, tetapi sebagian besar ada yang takut dan bingung harus berbuat apa. Bagi anda para wanita apakah akan selalu bahkan semakin menyiksa kami sampai kami tak mampu lagi memikirkan mana yang baik dan mana yang buruk. Kemudian terpaksa mengambil kesimpulan menikmati pemadangan yang anda tayangkan ? So, berjilbablah ... karena itu sungguh nyaman, tentram, anggun, cantik, mempersona dan tentunya sejuk di hati dan menyejukkan mata.

mang udin dan mang saleh

hei.. sambil cari tugas sekalian buka blog, kebetulan ada kisah lagi..
pelakunya itu :
MANG UDIN, tukang sol sepatu sama MANG SALEH, tukang sol sepatu juga

Mang Udin, begitulah dia dipanggil, seorang penjual jasa perbaikan sepatu yang sering disebut tukang sol. Pagi buta sudah melangkahkan kakinya meninggalkan anak dan istrinya yang berharap, nanti sore hari mang Udin membawa uang untuk membeli nasi dan sedikit lauk pauk. Mang Udin terus menyusuri jalan sambil berteriak menawarkan jasanya. Sampai tengah hari, baru satu orang yang menggunakan jasanya. Itu pun hanya perbaikan kecil.

Perut mulai keroncongan. Hanya air teh bekal dari rumah yang mengganjal perutnya. Mau beli makan, uangnya tidak cukup. Hanya berharap dapat order besar sehingga bisa membawa uang ke rumah. Perutnya sendiri tidak dia hiraukan.

Di tengah keputusasaan, dia berjumpa dengan seorang tukan sol lainnya. Wajahnya cukup berseri. “Pasti, si Abang ini sudah dapat uang banyak nich.” pikir mang Udin. Mereka berpapasan dan saling menyapa. Akhirnya berhenti untuk bercakap-cakap.

“Bagaimana dengan hasil hari ini bang? Sepertinya laris nich?” kata mang Udin memulai percakapan.

“Alhamdulillah. Ada beberapa orang memperbaiki sepatu.” kata tukang sol yang kemudian diketahui namanya Bang Soleh.

“Saya baru satu bang, itu pun cuma benerin jahitan.” kata mang Udin memelas.

“Alhamdulillah, itu harus disyukuri.”

“Mau disyukuri gimana, nggak cukup buat beli beras juga.” kata mang Udin sedikit kesal.

“Justru dengan bersyukur, nikmat kita akan ditambah.” kata bang Soleh sambil tetap tersenyum.

“Emang begitu bang?” tanya mang Udin, yang sebenarnya dia sudah tahu harus banyak bersyukur.

“Insya Allah. Mari kita ke Masjid dulu, sebentar lagi adzan dzuhur.” kata bang Soleh sambil mengangkat pikulannya.

Mang udin sedikit kikuk, karena dia tidak pernah “mampir” ke tempat shalat.

“Ayolah, kita mohon kepada Allah supaya kita diberi rezeki yang barakah.”

Akhirnya, mang Udin mengikuti bang Soleh menuju sebuah masjid terdekat. Bang Soleh begitu hapal tata letak masjid, sepertinya sering ke masjid tersebut.

Setelah shalat, bang Soleh mengajak mang Udin ke warung nasi untuk makan siang. Tentu saja mang Udin bingung, sebab dia tidak punya uang. Bang Soleh mengerti,

“Ayolah, kita makan dulu. Saya yang traktir.”

Akhirnya mang Udin ikut makan di warung Tegal terdekat. Setelah makan, mang Udin berkata,

“Saya tidak enak nich. Nanti uang untuk dapur abang berkurang dipakai traktir saya.”

“Tenang saja, Allah akan menggantinya. Bahkan lebih besar dan barakah.” kata bang Soleh tetap tersenyum.

“Abang yakin?”

“Insya Allah.” jawab bang soleh meyakinkan.

“Kalau begitu, saya mau shalat lagi, bersyukur, dan mau memberi kepada orang lain.” kata mang Udin penuh harap.

“Insya Allah. Allah akan menolong kita.” Kata bang Soleh sambil bersalaman dan mengucapkan salam untuk berpisah.

Keesokan harinya, mereka bertemu di tempat yang sama. Bang Soleh mendahului menyapa.

“Apa kabar mang Udin?”

“Alhamdulillah, baik. Oh ya, saya sudah mengikuti saran Abang, tapi mengapa koq penghasilan saya malah turun? Hari ini, satu pun pekerjaan belum saya dapat.” kata mang Udin setengah menyalahkan.

Bang Soleh hanya tersenyum. Kemudian berkata,

“Masih ada hal yang perlu mang Udin lakukan untuk mendapat rezeki barakah.”

“Oh ya, apa itu?” tanya mang Udin penasaran.

“Tawakal, ikhlas, dan sabar.” kata bang Soleh sambil kemudian mengajak ke Masjid dan mentraktir makan siang lagi.

Keesokan harinya, mereka bertemu lagi, tetapi di tempat yang berbeda. Mang Udin yang berhari-hari ini sepi order berkata setengah menyalahkan lagi,

“Wah, saya makin parah. Kemarin nggak dapat order, sekarang juga belum. Apa saran abang tidak cocok untuk saya?”

“Bukan tidak, cocok. Mungkin keyakinan mang Udin belum kuat atas pertolongan Allah. Coba renungkan, sejauh mana mang Udin yakin bahwa Allah akan menolong kita?” jelas bang Soleh sambil tetap tersenyum.

Mang Udin cukup tersentak mendengar penjelasan tersebut. Dia mengakui bahwa hatinya sedikit ragu. Dia “hanya” coba-coba menjalankan apa yang dikatakan oleh bang Soleh.

“Bagaimana supaya yakin bang?” kata mang Udin sedikit pelan hampir terdengar.

Rupanya, bang Soleh sudah menebak, kemana arah pembicaraan.

“Saya mau bertanya, apakah kita janjian untuk bertemu hari ini, disini?” tanya bang Soleh.

“Tidak.”

“Tapi kenyataanya kita bertemu, bahkan 3 hari berturut. Mang Udin dapat rezeki bisa makan bersama saya. Jika bukan Allah yang mengatur, siapa lagi?” lanjut bang Soleh. Mang Udin terlihat berpikir dalam. Bang Soleh melanjutkan, “Mungkin, sudah banyak petunjuk dari Allah, hanya saja kita jarang atau kurang memperhatikan petunjuk tersebut. Kita tidak menyangka Allah akan menolong kita, karena kita sebenarnya tidak berharap. Kita tidak berharap, karena kita tidak yakin.”

Mang Udin manggut-manggut. Sepertinya mulai paham. Kemudian mulai tersenyum.

“OK dech, saya paham. Selama ini saya akui saya memang ragu. Sekarang saya yakin. Allah sebenarnya sudah membimbing saya, saya sendiri yang tidak melihat dan tidak mensyukurinya. Terima kasih abang.” kata mang Udin, matanya terlihat berkaca-kaca.

“Berterima kasihlah kepada Allah. Sebentar lagi dzuhur, kita ke Masjid yuk. Kita mohon ampun dan bersyukur kepada Allah.”

Mereka pun mengangkat pikulan dan mulai berjalan menuju masjid terdekat sambil diiringi rasa optimist bahwa hidup akan lebih baik.

pilih yang mana ?

Bismillaah.. sekarang ada kisah dari seorang anak beranak.. mudah-mudahan ada 'ibrohnya yg bisa sedikit dipetik.. :)

Kisah ini aku ambil dari email salah seorang temanku di milis, semoga kisah ini bisa menjadi inspirasi bagi kita semua dalam menjalani kehidupan.

Seorang anak mengeluh pada ayahnya tentang hidupnya yang sulit. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa dan ingin menyerah saja. Ia lelah berjuang. Setiap saat satu persoalan terpecahkan, persoalan yang lain muncul. Ayahnya, seorang juru masak, tersenyum dan membawa anak perempuannya ke dapur. Ia lalu mengambil tiga buah panci, mengisinya masing-masing dengan air dan meletakkannya pada kompor yang menyala. Beberapa saat kemudian air dalam panci-panci itu mendidih. Pada panci pertama, ia memasukkan wortel. Lalu, pada panci kedua ia memasukkan telur. Dan, pada panci ketiga ia memasukkan beberapa biji kopi tumbuk.Ia membiarkan masing-masing mendidih.

Selama itu ia terdiam seribu basa. Sang anak menggereget gigi, tak sabar menunggu dan heran dengan apa yang dilakukan oleh ayahnya. Dua puluh menit kemudian, sang ayah mematikan api. Lalu menyiduk wortel dari dalam panci dan meletakkanya pada sebuah piring. Kemudian ia mengambil telur dan meletakkanya pada piring yang sama. Terakhir ia menyaring kopi yang diletakkan pada piring itu juga.

Ia lalu menoleh pada anaknya dan bertanya, "Apa yang kau lihat, nak?" "Wortel, telur, dan kopi, " jawab sang anak. Ia membimbing anaknya mendekat dan memintanya untuk memegang wortel. Anak itu melakukan apa yang diminta dan mengatakan bahwa wortel itu terasa lunak. Kemudian sang ayah meminta anaknya memecah telur. Setelah telur itu dipecah dan dikupas, sang anak mengatakan bahwa telur rebus itu kini terasa keras. Sang anak tersenyum saat mencicipi aroma kopi yang sedap itu. "Apa maksud semua ini, ayah?" tanya sang anak.
Sang ayah menjelaskan bahwa setiap benda tadi telah mengalami hal yang sama, yaitu direbus dalam air mendidih, tetapi selepas perebusan itu mereka berubah menjadi sesuatu yang berbeda-beda. Wortel yang semula kuat dan keras, setelah direbus dalam air mendidih, berubah menjadi lunak dan lemah.
Sedangkan telur, sebaliknya, yang semula mudah pecah, kini setelah direbus menjadi keras dan kokoh. Sedangkan biji kopi tumbuk berubah menjadi sangat unik. Biji kopi, setelah direbus, malah mengubah air yang merebusnya
itu. "Maka, yang manakah dirimu?" tanya sang ayah pada anaknya. "Di saat kesulitan menghadang langkahmu, perubahan apa yang terjadi pada dirimu?
Apakah kau menjadi sebatang wortel, sebutir telur atau biji kopi?"

Sunday, February 6, 2011

teruntuk para pecinta

sekarang.. cerita cinta itu datang dari Salman Al-Farisi, seorang sahabat Rasulullah..

Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang
dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil
tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah
pilihan dan pilahan yang dirasa tepat. Pilihan menurut akal sehat. Dan
pilahan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.

Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat
kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki
adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia
berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang
pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi
Madinah berbicara untuknya dalam khithbah. Maka disampaikannyalah gelegak
hati itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abu Darda’.

”Subhanallaah. . wal hamdulillaah. .”, girang Abu Darda’ mendengarnya.
Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa
cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru
tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.

”Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang
Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah
memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang
utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai
beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili
saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abud
Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.
”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima Anda berdua,
shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini
bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak
jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi
isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan
segala debar hati.

”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata
sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang
datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami
menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda’ kemudian juga memiliki
urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”

Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah.
Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu
mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga mengatakan indah karena satu
alasan; reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan
persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu
yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang
belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia
bicara.

”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan
ini akan aku serahkan pada Abu Darda’, dan aku akan menjadi saksi
pernikahan kalian!”
???

Cinta tak harus memiliki. Dan sejatinya kita memang tak pernah memiliki
apapun dalam kehidupan ini. Salman mengajarkan kita untuk meraih kesadaran
tinggi itu di tengah perasaan yang berkecamuk rumit; malu, kecewa, sedih,
merasa salah memilih pengantar –untuk tidak mengatakan ’merasa
dikhianati’-, merasa berada di tempat yang keliru, di negeri yang salah,
dan seterusnya. Ini tak mudah. Dan kita yang sering merasa memiliki orang
yang kita cintai, mari belajar pada Salman. Tentang sebuah kesadaran yang
kadang harus kita munculkan dalam situasi yang tak mudah.

Sergapan rasa memiliki terkadang sangat memabukkan..
Rasa memiliki seringkali membawa kelalaian. Kata orang Jawa, ”Milik
nggendhong lali”. Maka menjadi seorang manusia yang hakikatnya hamba
adalah belajar untuk menikmati sesuatu yang bukan milik kita, sekaligus
mempertahankan kesadaran bahwa kita hanya dipinjami. Inilah sulitnya. Tak
seperti seorang tukang parkir yang hanya dititipi, kita diberi bekal oleh
Allah untuk mengayakan nilai guna karuniaNya. Maka rasa memiliki kadang
menjadi sulit ditepis..

[Sumber: Jalan Cinta Para Pejuang - Salim A. Fillah]

jangan sampai

assalamu'alaikum.. mumpung hari minggu.. akhirnya sempat..
beberapa minggu yg lalu kan di pinjami buku "Jalan Cinta Para Pejuang" sama kak Abdullah Akif (nama asli : Andi Imam Arundhana), jadi, kayaknya ga baik kalo ilmu ny ga ditransfer, ini salah satu kisah inspiratif pada zaman kekhalifahan Umar Ibn Al-Khattab... mudah-mudahan ada 'ibroh yg bisa diambil..

‘Umar ibn Al-Khaththab sedang duduk di bawah sebatang kurma. Surbannya dilepas, menampakkan kepala yang rambutnya mulai teripis dibeberapa bagian. Di atas kerikil dia duduk, dengan cemeti imarat-nya tergeletak disamping tumpuan lengan. Dihadapannya para pemuka sahabat bertukar pikiran dan membahas berbagi persoalan. Ada anak muda yang tampak menonjol disitu. ‘Abdullah ibn ‘Abbas. Ada juga Salman Al-Farisi yang tekun menyimak. Ada juga Abu Dzar Al-Ghifari yang sesekali bicara api-api.
Pembicaraan mereka segera terjeda. Dua orang pemuda berwajah mirip datang dengan mengapit pria belia lain yang mereka cekal lengannya. “Wahai amirul Mukminin, “ ujar salah satu berseru-seru, “Tegakkanlah hukum Allah atas pembunuh ayah kami ini!”
‘Umar bangkit. “Takutlah kalian kepada allah!” hardiknya, “Perkara apakah ini?”
Kedua pemuda itu menegaskan bahwa pria belia yang merka bahwa ini adalah pembunuh ayah mereka. Mereka siap mendatangkan saksi dan bahkan menyatakan bahwa si pelaku ini telah mengaku. ‘Umar bertanya kepada sang tertuduh. “Benarkah yang mereka dakwakan kepadamu ini?”
“Benar, wahai Amirul Mukminin!”
“Engkau tidak menyangkal dan di wajahmu kulihat ada sesal!” ujar ‘Umar menyelidik dengan teliti. “Ceritakanlah kejadiannya!”
“Aku datang dari negeri yang jauh,”kata belia itu. “Begitu sampai dikota ini kutambatkan kudaku di sebuah pohon dekat kebun milik keluarga mereka. Kutinggalkan ia sejenak untuk mengurus suatu hajat tanpa aku tahu ternyata kudaku mulai memakan sebagian tanaman yang ada di kebun mereka.”
“Saat aku kembali,”lanjutnya sembari menghela nafas, “Kulihat seorang lelaki tua yang kemudian aku tahu adalah ayah dari kedua pemuda ini sedang memukul kepala kudaku dengan batu hingga hewan malang itu tewas mengenaskan. Melihat kejadian itu, aku dibakar amarah dan kuhunus pedang. Aku khilaf, aku telah membunuh lelaki tua itu. Aku memohon ampun kepada allah karenanya.”
‘Umar tercenung.
“Wahai Amirul Mukminin,”kata salah satu dari kedua kakak beradik itu, “Tegakkanlah hukum Allah. Kami meminta qishash atas orang ini. Jiwa harus dibayar dengan jiwa.”
‘Umar melihat pada belia tertuduh itu. Usianya masih sangat muda. Pantas saja dia mudah dibakar hawa amarah. Tapi sangat jelas bahwa wajahnya teduh. Akhlaknya santun. Gurat-gurat sesal tampak jelas membayang di air mukanya. ‘Umar iba dan merasa alangkah sia-sianya jika anak muda penuh adab dan berhati lembut ini harus mati begitu pagi. “Bersediakah kalian,” ucap ‘Umar ke arah dua pemuda penuntut qishash, “Menerima pembayaran diyat dariku atas nama pemuda ini dan memaafkannya?”
Kedua pemuda itu saling pandang. “Demi allah, hai Amirul Mukminin,”jawab mereka, “Sungguh kami sangat mencintai ayah kami. Dia telah membesarkan kami dengan penuh cinta. Keberadaanya ditengah kami takkan terbayar dan terganti dengan diyat sebesar apapun. Lagipula kami bukanlah orang miskin yang menghajatkan harta. Hati kami baru akan tenteram jika had ditegakkan!”
‘Umar terhenyak. “Bagaimana menurutmu?” tanyanya pada sang terdakwa.
“Aku ridha hukum allah ditegakkan atasku, wahai Amirul Mukminin,” kata si belia dengan yakin. “Namun ada yang menghalangiku untuk sementara ini. Ada amanah dari kaumku atas beberapa benda maupun perkara yang harus aku sampaikan kembali pada mereka. Demikian juga keluargaku. Aku bekerja untuk menafkahi mereka. Hasil jerih payah di perjalanan terakhirku ini harus aku serahkan pada mereka sembari berpamitan memohon ridha dan keampunan ayah ibuku.”
‘Umar trenyuh. Tak ada jalan lain, hudud harus ditegakkan. Tetapi pemuda itu juga memiliki amanah yang harus ditunaikan. “Jadi bagaimana? Tanya ‘Umar.
“Jika engkau mengizinkaku, wahai Amirul Mukminin, aku minta waktu tiga hari untuk kembali kedaerah asalku guna menunaikan segala amanah itu. Demi Allah, aku pasti kembali di hari ketiga untuk menetapi hukumanku. Saat itu tegakkanlah had untukku tanpa ragu, wahai putra Al-Khaththab.”
“Adakah orang yang bisa menjaminmu?”
“Aku tak memiliki seorangpun yang kukenal di kota inihingga dia bisa kuminta menjadi penjaminku kecuali Allah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
“Tidak! Demi Allah, tetap harus ada seseorang yang menjaminmu atau aku tak bisa mengizinkanmu pergi.”
“Aku bersumpah dengan nama allah yang amat keras ‘adzabnya. Aku takkan menyalahi janjiku.
“Aku percaya. Tapi tetap harus ada manusia yang menjaminmu!”
“Aku tak punya!”
“Wahai Amirul Mukminin!”terdengar sebuah suara yang berat dan berwibawa menyela. “Jadikan aku sebagai penjamin anak muda ini dan biarkanlah dia menunaikan amanahnya!” Inilah dia, Salman Al-Farisi yang tampil mengajukan diri.
“Engkau hai Salman, bersedia menjamin anak muda ini?”
“Benar. Aku bersedia!”
“Kalian berdua kakak berasik yang mengajukan gugatan,” panggil ‘Umar, “Apakah kalian bersedia menerima penjaminan dari Salman Al-Farisi atas orang yang telah membunuh ayah kalian ini? Adapun Salman semi Allah, aku bersaksi tentang dirinya bahwa dia lelaki ksatria yang jujur dan tak sudi berkhianat.”
Kedua pemuda itu saling pandang. “Kami menerima,” kata mereka nyaris serentak.
* * *
Waktu 3 hari yang disediakan untuk sang terhukum nyaris habis. ‘Umar gelisah tak karuan. Dia mondar-mandir sementara Salman duduk khusyu’ di dekatnya. Salman tampak begitu tenang padahal jiwanya di ujung tanduk. Andai lelaki pembunuh itu tidak datang memenuhi janji, maka dirinyalah selaku penjamin yang akan menggantikan tempat sang terpidana untuk menerima qishash.
Waktu terus merambat. Belia itu masih belum muncul.
Kota Madinah mulai terasa kelabu. Para shahabat berkumpul mendatangi ‘Umar dan Salman. Demi Allah, mereka keberatan jika Salman harus dibunuh sebagai badal. Mereka sungguh tak ingin kehilangan sahabat yang pengorbanannya untuk Islam begitu besar itu. Salman seorang sahabat yang tulus dan rendah hati. Dia dihormati. Dia dicintai.
Satu demi satu, dimulai dari Abud Darda’, beberapa shahabat mengajukan diri sebagai pengganti Salman jika hukuman benar-benar dijatuhkan padanya. Tetapi Salman menolak. ‘Umar menggeleng. Matahari semakin lingsir ke barat. Kekhawatiran ‘Umar makin memuncak. Para shahabat makin kalut dan sedih.
Hanya beberapa saat menjelang habisnya batas waktu, tampak seseorang datang dengan berlari tertatih dan terseok. Dia pemuda itu, sang terpidana. “Maafkan aku,”ujarnya dengan senyum tulus sembari menyeka keringat yang membasahi sekujur wajah, “Urusan dengan kaumku itu ternyata berbelit dan rumit sementara untaku tak sempat beristirahat. Ia kelelahan nyaris sekarat dan terpaksa kutinggalkan ditengah jalan. Aku harus berlari-lari untuk sampai kemari sehingga nyaris terlambat.”
Semua yang melihat wajah dan penampilan pemuda ini merasakan sergapan iba. Semua yang mendengar penuturannya merasakan keharuan mendesak-desak. Semua tiba-tiba merasa tak rela jika sang pemuda harus berakhir hidupnya dihari itu.
“Pemuda yang jujur,” ujar ‘Umar dengan mata berkaca-kaca, “Mengapa kau datang kembali padahal bagimu ada kesempatan untuk lari dan tak harus mati menanggung qishash?”
“Sungguh jangan sampai orang mengatakan,” kata pemuda itu sambil tersenyum ikhlas, “Tak ada lagi orang yang tepat janji. Dan jangan sampai ada yang mengatakan, tak ada lagi kejujuran hati di kalangan kaum Muslimin.”
“Dan kau Salman,”kata ‘Umar bergetar, “Untuk apa kau susah-susah menjadikan dirimu penanggung kesalahan dari orang yang tak kau kenal sama sekali? Bagaimana kau bisa mempercayainya?”
“Sungguh jangan sampai orang bicaraa,” ujar Salman dengan wajah teguh, “Bahwa tak ada lagi orang yang mau saling membagi beban dengan saudaranya. Atau jangan sampai ada yang merasa, tak ada lagi saling percaya di antara orang-orang Muslim.”
“Allahu Akbar! Kata ‘Umar, “Segala puji bagi Allah. Kalian telah membesarkan hati ummat ini dengan kemuliaan sikap dan agungnya iman kalian. Tetapi bagaimanapun wahai pemuda, had untukmu harus kami tegakkan!”
Pemuda itu mengangguk pasrah.
“Kami memutuskan...”kata kakak beradik penggugat tiba-tiba menyeruak, “Untuk memaafkannya.” Mereka tersedu sedan. “Kami melihatnya sebagai seorang yang berbudi dan tepat janji. Demi Allah, pasti benar-benar sebuah kekhilafan yang tak disengaja jika dia sampai membunuh ayah kami. Dia telah menyesal dan beristighfar kepada Allah atas dosanya. Kami memaafkannya. Janganlah menghukumnya, wahai Amirul Mukminin.”
“Alhamdulillah! Alhamdulillah!” ujar ‘Umar. Pemuda terhukum itu sujud syukur. Salman tak ketinggalan menyungkurkan wajahnya ke arah kiblat mengagungkan asma Allah, yamg kemudian diikuti oleh semua hadirin.
“Mengapa kalian tiba-tiba berubah pikiran?” tanya ‘Umar pada kedua ahli wariskorban.
“Agar jangan sampai ada yang mengatakan,”jawab mereka masih terharu, “Bahwa di kalangan kaum Muslimin tak ada lagi kemaafan, pengampunan, iba hati dan kasih sayang.”...
Subhanallah.... [-_-]


redaksi tulisan Salim A. Fillah